Situasi politik di Prancis kembali memanas setelah PM Prancis Diserang oleh publik dan oposisi akibat pernyataannya yang dianggap meremehkan lawan politik. François Bayrou, Perdana Menteri yang baru diangkat oleh Presiden Emmanuel Macron, menyebut tidak ada dialog serius dengan oposisi terkait anggaran negara karena “semua sedang berlibur” pada bulan Agustus. Komentar yang awalnya disampaikan dengan nada ringan itu justru memicu gelombang kritik keras dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh oposisi hingga masyarakat luas.

Marine Le Pen dari partai sayap kanan menilai pernyataan Bayrou tidak berdasar karena pihaknya tetap aktif bekerja menyusun proposal ekonomi sepanjang musim panas. Sementara itu, tokoh Partai Hijau, Marine Tondelier, menyebut komentar perdana menteri sebagai bentuk pelecehan terhadap kerja politik oposisi. Dengan cepat, isu ini berkembang menjadi polemik nasional yang menambah ketidakstabilan menjelang pemungutan suara kepercayaan pada awal September.

Tidak butuh waktu lama hingga media lokal dan internasional menjadikan frase “PM Prancis Diserang” sebagai headline. Situasi ini menambah beban Bayrou, yang sejak awal memang memimpin pemerintahan minoritas dengan dukungan terbatas di parlemen.

Gelombang Kecaman Politik dan Publik

Pernyataan Bayrou bahwa oposisi tengah berlibur dianggap mencerminkan sikap meremehkan serta kurangnya keseriusan dalam menghadapi tantangan politik. Dengan cepat, PM Prancis Diserang oleh gelombang kritik yang datang dari berbagai arah. Le Pen menegaskan oposisi tidak pernah berhenti bekerja meski musim panas berlangsung, bahkan terus menyiapkan usulan alternatif anggaran. Tondelier menambahkan bahwa komentar Bayrou mencederai semangat demokrasi yang seharusnya menjunjung tinggi dialog dan keterlibatan semua pihak.

Kritik tidak hanya datang dari oposisi, tetapi juga dari media dan kalangan akademisi yang menilai bahwa ucapan Bayrou memperburuk citra pemerintahan. Banyak yang menilai pernyataan itu menunjukkan adanya disconnect antara elit politik dengan realitas yang dihadapi masyarakat, terutama saat Prancis sedang bergulat dengan perlambatan ekonomi.

Dengan kondisi itu, istilah “PM Prancis Diserang” bukan hanya sekadar narasi media, tetapi mencerminkan realitas politik yang tengah bergejolak. Bayrou kini dipandang sebagai sosok yang rapuh secara politik, bahkan sebelum menghadapi ujian kepercayaan di parlemen.

Krisis Politik dan Risiko Ekonomi

Krisis politik yang menimpa François Bayrou berpotensi membawa dampak serius bagi stabilitas negara. Dengan PM Prancis Diserang dari berbagai sisi, posisi pemerintahannya semakin lemah di hadapan parlemen. Jika gagal mendapatkan dukungan dalam pemungutan suara, pemerintahan Bayrou bisa runtuh dalam hitungan minggu.

Presiden Emmanuel Macron berada dalam posisi sulit. Ia dapat menunjuk perdana menteri baru, membentuk pemerintahan transisi, atau bahkan mengambil langkah drastis dengan membubarkan parlemen dan mengadakan pemilu dini. Namun, setiap opsi membawa risiko politik dan ekonomi yang besar. Ketidakpastian ini telah mengguncang pasar keuangan Prancis. Indeks CAC40 turun signifikan, sementara imbal hasil obligasi negara melonjak, menandakan kekhawatiran investor terhadap stabilitas fiskal negara.

Oposisi juga memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi mereka di mata publik. Dengan PM Prancis Diserang oleh isu ucapan yang dianggap merendahkan, oposisi berhasil mengubah narasi politik menjadi pertarungan kredibilitas. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang lebih luas, tidak hanya dalam politik domestik tetapi juga dalam persepsi internasional terhadap kepemimpinan Prancis.

François Bayrou kini berada di persimpangan jalan. Sebagai perdana menteri yang baru ditunjuk, ia harus membuktikan kemampuannya menjaga stabilitas politik di tengah gejolak. Namun, dengan PM Prancis Diserang dari berbagai sisi, peluangnya untuk bertahan tampak semakin kecil. Pemungutan suara kepercayaan pada awal September akan menjadi ujian besar yang menentukan apakah ia masih layak memimpin atau harus digantikan.

Baca juga : Protes Umum Prancis Ancam Stabilitas Pemerintahan Bayrou

Jika Bayrou kalah, konsekuensinya bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Presiden Macron dan masa depan politik Prancis. Pemerintahan minoritas yang rapuh bisa segera runtuh, memicu kemungkinan pemilu dini yang akan semakin memperbesar ketidakpastian. Skenario ini tentu menjadi kabar buruk bagi ekonomi Prancis yang saat ini sedang menghadapi tantangan inflasi dan perlambatan pertumbuhan.

Namun, bagi sebagian analis, krisis ini bisa menjadi peluang bagi Macron untuk merestrukturisasi politik Prancis. Dengan PM Prancis Diserang, muncul ruang untuk membentuk koalisi baru atau bahkan menggeser strategi politik demi mempertahankan stabilitas. Bagaimanapun, apa yang terjadi menunjukkan betapa rentannya sistem pemerintahan ketika komunikasi politik gagal dikelola dengan bijak.